The Dream of the Moon

This was a story about the moon, and her dream…

Could you see the moon in the night sky? Yes, it was shining. She gave us light to face the dark. But, something that we didn’t know was that she lived in the darkness herself. She felt lonely. A crowd of stars which surrounded her still wasn’t enough to cheer her up. No, she didn’t want a thousand of stars. She just wanted one biggest star, the sun. It was her dream to be with the sun, in the same place and same time. Could it be possible? Could her dream come true? She knew it couldn’t. No matter how hard she tried, it would always be an only dream, in her mind, in her heart.

She once asked herself, “Does the sun recognize my presence? Does he know that I want to be with him?”

There seemed no answer. But as time flew, she then realized that the sun always behind her, guarded her. He gave his light to make the moon shine by her own. He shared his precious thing to her. And she couldn’t ask more. Although they couldn’t stand side by side, at least she knew the sun always stayed there to complete her, to make the world more wonderful…Image

Hampa Tanpamu..

Aku memang masih bisa bernafas ketika kau tak lagi disisiku. Masih bisa melanjutkan hidup. Masih bisa tertawa. Masih bisa beraktivitas seperti biasanya. Karena aku sudah terbiasa hidup di dalam topeng seperti itu, selalu berpura-pura seolah tak ada yang pernah terjadi. Dan itu memang membuatku kuat. Paling tidak, itulah yang akan dilihat oleh orang-orang.

Namun disaat aku sendiri, kesepian ini kembali melanda. Rindu ini semakin membara. Cinta ini masih ada  dan sangat nyata untukmu. Cinta yang selama ini telah menguatkanku. Cinta yang selalu membuatku bertahan bersamamu, dalam sebuah kebahagiaan yang mungkin tak bisa lagi kurasa.

Berhenti mencintai tak pernah bisa sesingkat ketika jatuh cinta. Dan saat ini, aku masih belum berniat untuk melakukannya. Karena aku masih nyaman berada diantara perasaan-perasaan itu. Aku masih belum ingin pergi. Aku masih ingin tetap tinggal bersama kenangan-kenangan kita.

Tanpamu semua terasa berbeda. Tanpamu hidupku menjadi hampa. Tanpamu aku bagaikan hidup dengan separuh jiwa. Aku bukanlah apa-apa. Dirimu lah yang bisa melengkapiku. Hanya dirimu lah yang kumau untuk melengkapiku. Bukan yang lain.

Aku tahu kau pun masih mencintaiku. Aku tahu hatimu belum berubah. Kita hanya terlalu angkuh dengan bertahan pada ego masing-masing. Kita masih terlalu kekanakan untuk melihat suatu masalah secara dewasa. Kita berdua terlalu.. gengsi.

Kali ini, izinkan aku berdoa kepada Tuhan agar kita diberi satu kesempatan lagi. Karena aku belum siap berpisah denganmu. Tidak akan pernah siap.

Gambar

SADIS (Sakit Disini..)

Gambar

“Jika kita memutuskan untuk mencintai, sudah seharusnya kita juga bersiap untuk merasakan sakit hati.”

Tidak ada yang pernah tahu dengan takdir Tuhan. Siapa yang bisa menyangka jika akhirnya aku mencintaimu? Semuanya terjadi begitu tiba-tiba, bahkan tanpa aku sadari kapan tepatnya aku mulai memiliki rasa itu. Diam-diam kau masuk ke dalam hidupku, mencuri hatiku, dan membuatnya nyaman ketika ada didekatmu. Aku akui itu adalah salah satu hal paling menyenangkan yang pernah kurasakan. Dalam doaku, aku bersyukur karena Tuhan memberiku kesempatan untuk mengenalmu – dalam sebuah perkenalan tanpa sengaja.

Sayang, aku memang mencintaimu dan itu membuatku bahagia. Namun ada kalanya cinta itu membuatku sakit. Saat kau tak mempercayaiku dan memarahiku atas hal yang tak pernah kulakukan, hatiku terasa sesak. Aku sedih karena kau masih meragukanku. Padahal sungguh, apapun yang kulakukan, yang kucinta hanyalah kamu. Saat itu aku masih bisa bertahan. Aku masih bisa berjuang untuk hubungan kita.

Mungkin aku memang bukanlah wanita yang sempurna. Tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk bisa menjadi yang terbaik untukmu. Namun lagi-lagi aku melakukan kesalahan. Aku melakukan hal bodoh dan menyinggung perasaanmu, bahkan menyakiti hatimu. Tapi apa kau tahu? Disaat itu juga aku telah menyakiti hatiku sendiri.  Dan pada kenyataannya, itu jauh lebih sakit.

Hal yang paling bodoh adalah ketika kau berpikir bahwa aku menduakanmu. Bukankah aku sudah memintamu untuk mempercayaiku? Tidak pernah ada niatan di hati ini untuk mencari yang lain. Seharusnya kau tahu bahwa aku hanya mencintaimu. Seharusnya kau sadar bahwa cinta ini hanya untukmu. Sakit, sayang. Sakit sekali. Sekeras apapun aku berusaha untuk menjelaskan, kau tak pernah mau tahu. Kau selalu merasa apa yang ada dipikiranmu lah yang paling benar, tanpa kaupikirkan bagaimana perasaanku waktu itu. Namun aku masih bisa mengalah. Karena aku masih ingin bersamamu.

Ketika teman-temanku menasihatiku untuk meninggalkanmu, aku menolak. Mereka bertanya kenapa aku masih mau bertahan padahal sudah jelas aku sering dibuat terluka oleh sifat curigamu, dan aku menjawab.. karena perasaan ini sudah terlanjur dalam. Karena aku masih menyimpan harapan-harapan serta doa-doa untuk hubungan kita. Karena aku percaya kita masih bisa melewati ini semua.

Tapi sekarang, sepertinya aku sudah mencapai batasnya. Rasa ketidakpercayaanmu kembali melukai hatiku. Aku tahu kau juga terluka disana. Aku tahu kita sama-sama merasa terluka. Dan ini semua membuatku menangis. Aku menangis karena akhirnya aku harus meninggalkanmu disaat cinta ini sudah terlalu dalam. Menangis karena aku masih ingin menjalani hidup bersamamu. Menangis karena aku tidak ingin melepasmu. Tapi aku harus melakukan itu semua. Hubungan tanpa rasa percaya takkan pernah bisa berhasil. Yang ada hanyalah rasa sakit.

English Camp 2013: Another Story

Gambar

2 C . . . Smart, Confident, Fun Fun and Fuuuuuuun xD

Itulah secuplik jargon yang telah ditampilkan oleh para penghuni kelas 2 C tercinta pada acara English Camp yang telah sukses digelar di Jogja mulai tanggal 28 – 30 Mei 2013.

English camp sendiri merupakan sebuah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh English Department dibawah naungan Universitas Nusantara PGRI Kediri. Kegiatan ini wajib diikuti oleh semua mahasiswa tingkat 2 demi memenuhi persyaratan kelulusan mata kuliah Speaking 4. Kegiatan tersebut meliputi Discussion, Yel Competition, Song Competition dan Drama Competition. Disinilah diperlukan kerja keras dan kekompakan antara anggota-anggota kelas untuk bisa menampilkan sesuatu yang WOW, AMAZING, UNIQUE, etc.

Sekitar 1 bulan menjelang pelaksanaan English camp, latihan-latihan mulai diadakan secara rutin tiap minggunya. Melelahkan? Tentu saja. Kenapa? Karena latihan tersebut diadakan seusai perkuliahan, atau bahkan disela-selanya. Menyebalkan? Kadang-kadang. Alasannya? Masih banyak individu-individu yang tidak disiplin atau tidak mengikuti latihan secara maksimal. Misal: ketua tim sudah mengumumkan bahwa latihan akan diadakan pukul 8 nol nol, tapi sampai jam 9 pun cuma segelintir orang saja yang hadir. Ironisnya saya sendiri sempat merasa malas untuk mengikuti latihan drama. Well, I’m so sorry, guys.. itu adalah sebuah kekhilafan yang disengaja.

Menyatukan 30 kepala lebih adalah hal yang sangat tidak mudah. Ada yang cuek, cerewet, egois, ingin menang sendiri, sok imut, sok yes, sok pintar, sok baik, dan sok-sok lainnya yang sangat tidak penting untuk disebutkan karena takut mengundang fitnah yang padahal cuma kata-kata ga jelas dengan maksud terselubung jika mau ditelaah secara lebih mendalam. Lalu, bagaimana mereka bisa bersatu? Jawabannya adalah dengan menekan ego masing-masing untuk bisa lebih merendahkan hati dan sadar bahwa semua orang itu diciptakan sama, sejajar, yang membedakan adalah tingkat taqwanya J *okesip

Selasa malam, 28 Mei 2013

Diiringi dengan hujan gerimis, 5 bus pariwisata mulai diberangkatkan dari Kediri menuju Jogjakarta. Kelas 2 C menempati bus C yang lumayan nyaman daripada lumanyun. Berangkat dengan kondisi perut yang sangat tidak enak karena mual-mual akibat kekenyangan sempat membuat drop juga. Walhasil, selama perjalanan saya memutuskan untuk tidur. Alhamdulillah hal yang dikhawatirkan tidak terjadi, walaupun pada akhirnya tetap dikeluarkan juga di Mantingan, Ngawi (kalo ga salah). Legaaaa~

Rabu, 29 Mei 2013

Sekitar pukul setengah lima rombongan tiba di Parangtritis untuk MCK, sholat, sarapan, dan yang paling penting.. menikmati pantaaaaaiiiiii 😀 hoho akhirnya setelah sekian lama bermimipi pergi ke pantai, hari itu kesampaian juga. Seneng seneng seneng. Seperti tidak mau melewatkan momen, puluhan jepretan blitz kamera pun ikut meramaikan kegiatan pagi itu (padahal cuma pake henpon -.-)

Setelah parangtritis, tujuan berikutnya yaitu pasar Bringharjo. Seperti yang sudah bisa ditebak, pundi-pundi rupiah pun mulai terkuras dari dompet. Apalagi bagi cewek, susah sekali mengontrol hasrat berbelanja.

Dan, taraaaaaa.. sampailah kita di Hotel yang-namanya-aku-lupa :^) .. Keluarga suki (TongSuCuCing) menempati kamar 215 yang sebenarnya berukuran kecil tapi comfortable sekali. Setelah 3 M, makan, mandi, macak, pergilah kita ke Ballroom untuk mengikuti acara yang sesungguhnya.

Rabu malam, perlombaan-perlombaan mulai ditampilkan. Bersyukur sekali kali ini kelas 2 C bisa kompak :’) .. apapun hasilnya nanti, yang terpenting itu kita telah menampilkan yang terbaik. Adanya alunan Beat Box oleh salah satu mahasiswa (Sadali) semakin menyemarakkan malam itu. Semuanya berdiri, menghentakkan kaki, bergoyang sana-sini ~(^_^)~ wkwk .. Para dosen pun juga tak mau kalah. Dengan mengikuti tembang-tembang jawa, mereka menari dengan gemulai. Saat itu saya sadar bahwa ternyata English camp tidak semembosankan seperti yang sudah saya kira sebelumnya. Pelajaran yang bisa dipetik adalah “Janganlah kita terburu-buru menilai sesuatu yang belum pernah kita alami dan rasakan”.

Kamis, 30 Mei 2013

Sebelum kembali ke habitat asal (baca: Kediri), paginya kita mengikuti fun game yang mengantarkan kita ke tonggak kemenangan. Terima kasih kepada perwakilan game yang telah berhasil membuat kita menjadi juara 2. Dan hal yang paling mendebarkan adalah saat pengumuman pemenang kompetisi. Benar-benar diluar dugaan kelas 2 C bisa menjadi juara 1 Yel competition dan juara 2 Drama competition *sujudsyukur .. ini semua karena kerja keras kita, tekad kita, dan usaha kita bersama.

Harapanku, semoga kekompakan kelas kita ini tidak hanya pada saat English Camp, tapi terus dibawa sampai wisuda nanti 🙂 #ketjup

Gambar

Say Goodbye . . . Part 2

Ini lanjutan postingan sebelumnya yaa 🙂 http://wp.me/p3z5Cd-Y

***

            Radit berjalan dengan gontai di sepanjang trotoar. Matanya menatap lurus ke depan, tapi pandangannya kosong. Pikirannya melayang jauh ke saat ia pertama kali bertemu dengan Airyn, saat ia mengungkapkan perasaannya pada gadis itu, saat mereka merayakan ulang tahunnya, dan saat-saat indah lainnya yang pernah mereka lewati. Akankah semuanya hanya menjadi sebuah kenangan?

Radit begitu mencintai Airyn dengan sepenuh hatinya. Ia telah memberikan jiwanya pada gadis itu. Lalu sekarang, saat Airyn mencampakkannya dengan cara yang begitu kejam, ia lupa meminta jiwanya kembali. Ia bagaikan sebuah tubuh tanpa jiwa, tanpa arah, tanpa tujuan.

Farel, ia sudah menganggap lelaki itu seperti saudara sendiri. Ia yakin Farel tahu betapa besar ia mencintai Airyn. Tapi kenapa ia malah menusuknya dari belakang? Rasanya sakit sekali saat harus kehilangan dua orang yang sangat disayangi sekaligus. Dua orang yang sangat ia percaya. Dua orang yang sangat berarti bagi hidupnya. Semuanya hilang. Lebur bersama air hujan yang perlahan turun ke bumi.

Airyn melangkahkan kakinya dijalanan beraspal dengan mata yang sayu. Ternyata tidak semudah yang ia kira. Ternyata rasanya sesakit ini. Perlahan air matanya menetes tanpa sempat ia cegah. Tidak pernah terpikir olehnya jika melukai orang yang sangat ia sayangi juga berarti melukai dirinya sendiri. Hatinya teramat sakit. Radit adalah segalanya baginya. Jika bisa, ia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama laki-laki itu. Tapi tidak, takdir tak pernah mengijinkannya.

Mendadak ia merasakan sakit di kepalanya. Kali ini ia tidak bisa menahannya lagi. Ia mengambil rambutnya yang rontok dengan tangan yang bergetar. Ia tersenyum samar. “Aku memang gadis yang kejam, Radit. Bencilah aku semaumu.”

***

Radit merasakan hapenya bergetar. Dengan malas ia merogoh saku celananya dan membaca sebuah nama yang tertera dilayar. Mike.

Begitu mengakhiri panggilan, Radit langsung berlari membelah kerumunan. Ia menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalannya, tidak peduli dengan cacian maupun makian yang ia terima. Yang ada di pikirannya saat itu ialah segera bertemu dengan Airyn. Ia ingin melihat gadis itu.

Radit tiba di koridor rumah sakit dengan terengah-engah. Matanya sibuk mencari ruangan yang telah disebutkan oleh Mike. Ia berlari seperti orang yang kehabisan akal. Ia memang tidak bisa berpikir sekarang. Membayangkan orang yang begitu ia cintai tergolek lemah di rumah sakit sudah banyak menyita pikirannya.

Mike dan Dony sontak berdiri menyambut kedatangan Radit. Mata mereka menunjukkan ekspresi kesedihan yang mendalam.

“Dimana Airyn?” tanya Radit sedikit tidak sabar. “Katakan dia ada dimana sekarang! Aku ingin melihatnya.” Melihat temannya hanya diam, Radit mengeraskan suaranya.

“Dia ada di dalam,” kata Dony akhirnya seraya mengarahkan matanya pada ruang operasi di depannya.

Lampunya berwarna hijau, menunjukkan bahwa ada aktivitas di dalamnya.

Kini Radit semakin gusar. Ia terduduk lemas di kursi tunggu. “Airyn..” desisnya parau.

Farel berjalan mendekati Radit. Ia menyerahkan cincin pemberian Airyn pada laki-laki itu. “Dia memintaku untuk memberikannya padamu.”

Radit menerima cincin itu dengan gemetar. Ia mengamati cincin yang ada di tangannya dengan seksama. Itu adalah cincin yang pernah ia beli untuk gadis itu. Cincin pasangan. Radit menggenggam cincin itu kuat-kuat seolah cincin itu masih melingkar di jari manis Airyn. Ia tidak ingin melepaskannya.

Farel menepuk bahu Radit pelan. “Maafkan aku, Sobat,” ia memulai, “ia memintaku untuk melakukan ini semua. Kurasa ia tidak ingin melihatmu sedih jika kau tahu yang sebenarnya.”

Jujur saja ini adalah hal terberat bagi Farel. Dari awal ia dan teman-temannya yang lain – Mike dan Dony – sudah tahu tentang penyakit yang di derita Airyn. Kanker otak stadium akhir, gadis itu berperang melawan penyakit mematikan itu sendirian. Ia tidak tahu dengan jelas apa alasan Airyn menyembunyikan hal ini pada Radit, tapi yang pasti ia telah melakukan apa yang ia bisa untuk gadis itu. Saat ia meminta Farel untuk berpura-pura berselingkuh dengannya, ia pun menyanggupinya. Walaupun ia tahu, baik Radit ataupun Airyn sendiri akan sama-sama merasa terluka.

“Mungkin dia sudah bisa mengira bahwa umurnya tidak akan lama lagi. Jadi dia ingin membuatmu benci agar kau bisa melepasnya dengan mudah,” sambung Farel.

Radit benar-benar frustasi sekarang. Ia merutuk dirinya sendiri yang tidak tahu apa-apa. Ia hanya mendengarkan penjelasan teman-temannya tanpa bisa berkomentar apapun. Lidahnya terasa kelu. Bahkan di saat seperti ini, Airyn masih memikirkannya. Airyn tidak ingin melihatnya sedih. Lalu ia teringat pada kata-kata yang ia ucapkan pada gadis itu saat terakhir kali mereka bertemu. Ia mengatakan bahwa Airyn adalah gadis yang kejam. Ia pasti telah menyakiti hati Airyn dengan mengatakan hal itu. Ia menyesal. Kalau bisa ia ingin menariknya kembali. Kalau bisa ia ingin terus menemani gadis itu. Sekarang yang bisa ia lakukan hanya berdoa. Ia berharap Tuhan akan memberinya satu kesempatan lagi.

Ting!

Bunyi dari ruang operasi itu mengembalikan kesadarannya. Dokter meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang tertunduk.

Tidak perlu banyak kata untuk menjelaskan semuanya. Radit sadar kini harapannya tidak akan pernah terwujud. Radit melihat tubuh Airyn dari kaca. Tubuh itu terlihat pucat dan tidak bergerak. Air matanya semakin deras mengalir. Ia tidak pernah menyangka akan kehilangan gadis itu begitu cepat. Airyn pergi tanpa mengucapkan kata selamat tinggal padanya. Airyn meninggalkannya begitu saja.

Dunianya seolah berguncang dengan hebat. Ia limbung dan jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin. Ia sadar hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah ini. Airyn, pelengkap hidupnya, sekarang sudah tidak ada lagi.

“Jangan pergi, Airyn. Maafkan aku.”

 End ~

Say Goodbye . . . Part 1

Sebenernya cerpen ini terinspirasi dari MV Bigbang “Haru-Haru” yang emang mengharu biru, menyedihkan, mengenaskan, mengharukan, menyesekkan dan blablabla yang ujung-ujungnya bikin nangis yang dengan sengaja mengganti setting dan main characters. Tapi.. kenapa pas dibikin cerpen jadi ga sedih sama sekali? ini yang salah keyboardnya apa laptopnya? o.O Dan karena cerpen ini lumayan panjang, jadilah dibagi 2 bagian..
Well, ga usah kebanyakan cincong.. Let’s read this out ^^

SAY GOODBYE …

            “Aku akhirnya menyadari bahwa aku bukanlah apa-apa tanpamu. Aku telah salah. Maafkan aku.”

            Tak seperti biasanya awan mendung menyelimuti kota Jakarta siang ini. Radit menengadah, menatap langit di atasnya. Ia harus bergegas pulang jika tidak mau kehujanan. Dengan bersenandung pelan ia melangkahkan kakinya. Ia berbelok di sebuah gang kecil dan mengikuti jalanan berbatu yang mengantarnya ke sebuah gudang tua yang disulap menjadi rumah. Gudang ini memiliki 2 lantai dan halaman yang luas. Awalnya Radit menemukan gudang ini tanpa sengaja, kemudian ia mengajak teman satu gengnya untuk merenovasi tempat ini dan menjadikannya sebagai tempat tinggal. Mereka – Radit, Farel, Mike, dan Dony – sangat bangga sekali dengan hasil kerja keras mereka dan sudah menempati gudang ini selama 2 tahun.

Dari kejauhan Radit menangkap siluet seorang perempuan yang sangat ia kenal. Perempuan berambut panjang dengan tubuh mungil dan wajah orientalnya yang sangat menggemaskan. Dia adalah Airyn, kekasihnya selama 1 tahun terakhir. Radit mempercepat langkahnya agar bisa segera bertemu dengan kekasihnya itu. Airyn pasti sedang menunggunya.

Semakin mendekat, ia semakin menyadari bahwa gadis itu tidak sendirian. Ia menghentikan langkahnya. Tak percaya dengan apa yang telah ia lihat. Ia memejamkan matanya, berharap bahwa itu semua hanyalah mimpi. Tapi begitu ia membuka mata, semuanya masih tetap sama.

Hatinya mendadak panas. Dengan geram ia melompat ke arah Farel dan langsung meninjunya.

Farel yang mendapat serangan tiba-tiba seperti itu tidak bisa mengelak dan jatuh tersungkur. Ia memegangi ujung bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah. Perih.

“Brengsek!” maki Radit. Ia mendekati Farel dan mencengkeram kerah kaosnya kuat-kuat. “Teman macam apa kau, hah? Kau tahu Airyn itu kekasihku!” bentaknya, bersiap memukul Farel lagi.

Tapi kali ini Farel tidak tinggal diam. Ia menahan laju tangan Radit dengan tangannya sendiri. “Memangnya salah kalau aku juga menyukainya?” teriaknya. Ia mendorong Radit menjauh.

“Kau..” Radit melayangkan tinjunya ke arah Farel lagi, dan Farel membalasnya. Baku hantam pun tak terelakkan. Mereka saling pukul satu sama lain.

Airyn yang melihat hal ini hanya bisa mematung. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia berteriak, meminta mereka untuk menghentikan perkelahian ini. Tapi suaranya seperti tidak didengar.

Mendengar suara keributan diluar, Mike dan Dony yang ada di lantai atas segera turun. Ia terkejut melihat perkeliahan Radit dan Farel. Mereka berusaha melerainya.

“Sudahlah Radit, hentikan! Jangan seperti anak kecil!” Dony memegang lengan Radit yang masih berusaha meronta.

“Tidak! Lepaskan aku, Don! Urusanku dengannya masih belum selesai,” raung Radit.

Sementara itu Mike memegangi Farel dan membawanya menjauh dari Radit. Laki-laki itu seperti orang kesetanan. Ia tidak mau terjadi hal yang lebih parah lagi.

Saat emosi Radit mulai mereda, matanya sibuk mencari Airyn. Gadis itu melihatnya dengan nanar.

“Maafkan aku, Dit,” ucap Airyn pelan. “Kurasa hubungan kita sudah tidak bisa dilanjutkan lagi.”

Radit terkesiap. “Tidak, Airyn. Kau jangan bercanda.”

Airyn menggeleng. “Aku serius. Sejak awal aku sudah mengira hubungan ini tidak akan berhasil. Lagipula, aku mencintai Farel,” ia melirik Farel sekilas, tersenyum pada laki-laki itu, dan kembali menatap Radit.

Tangan Radit mengepal. Kata-kata terakhir Airyn membuat kupingnya panas. “Lalu kau anggap apa aku selama ini?” Radit berteriak di depan Airyn. Membuat gadis itu terkejut dan mundur ke belakang.

Ia mendesah pelan. “Kalau begitu, tatap mataku dan katakan kalau kau tidak mencintaiku!” tantangnya. Ia masih berharap gadis itu hanya membohonginya.

Airyn menatap lurus ke mata Radit. “Radit, aku.. sudah.. tidak.. mencintaimu.. lagi..” kata Airyn mantap dengan penekanan di setiap katanya.

Hati Radit mencelos. Hilang sudah harapannya. Mata Airyn tidak berbohong. Gadis itu bersungguh-sungguh. “Ternyata aku telah salah menilaimu,” ia tersenyum mencibir. “Kau tidak sebaik yang kupikirkan. Kau sangat kejam, Airyn. Kau gadis pertama yang menghancurkan hatiku sampai seperti ini. Kau gadis yang munafik,” geramnya.

Kemudian ia berlalu pergi. Otaknya masih sibuk mencerna apa yang sebenarnya telah terjadi. Ia melihat Airyn memberikan sebuah cincin kepada Farel. Mereka berdua bercengkerama. Mereka berdua tertawa bersama. Mereka berdua terlihat bahagia. Kekasihnya dan temannya. Kekasihnya dan temannya.. mereka mengkhianatinya. Kata-kata itu terus berputar di otaknya tanpa henti. Pandangannya mengabur karena air mata.

“Aaaaghh!!” Ia memukul cermin di depannya untuk melampiaskan semua perasaan yang berkecamuk di hatinya. Ia tidak peduli dengan darah yang terus menetes. Baginya sakit fisik seperti ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sakit hati yang ia rasakan.

Dony dan Mike bersandar pada dinding luar kamar Radit, memperhatikan temannya yang terlihat sangat kacau. Mereka tidak tega melihat temannya yang biasanya terlihat kuat mendadak menjadi rapuh.

“Aku harus memberitahu yang sebenarnya,” kata Mike, mencoba mendekati Radit.

Namun Dony mencegahnya. Ia menggeleng. “Lebih baik kita biarkan dia sendiri dulu.”

Airyn menyeka noda biru di wajah Farel dengan sapu tangannya. Lelaki itu meringis menahan sakit.

“Apakah sangat sakit?” tanya Airyn cemas.

Farel hanya tersenyum. Ia yang melihat Radit menuruni anak tangga segera menarik Airyn ke pelukannya. “Aku tidak apa-apa.”

Lagi-lagi hati Radit merasa panas. Kalau tidak ada Mike dan Dony yang menghalangi jalannya, ia pasti akan memukul Farel lagi sekarang. Ia masih belum bisa menerima kenyataan ini.

***